Selasa, 17 Juli 2012

My Last Love


Tittle: My Last Love
Author: onni lee
Main cast: Kim Minrye (OC), Onew (SHINee).
Support cast: Kim Ha Ra (as Minrye's mother).
Rating: all ages
Genre: romance









“ Minrye . . . .” teriak Jinki saat memanggilku.
“ Jinki-aah ,, ada apa??” tanyaku balik
“ Tidak ada apa-apa Minrye !!” jawabnya sambil tersenyum padaku.
   Jinki adalah seseorang yang selalu membuat aku tertawa, selalu mengisi hariku dengan senyumannya, dan selalu ada disaat aku membutuhkan dia. Ya,, dia adalah seseorang yang sangat aku cintai.
   Hari itu, Jinki menjemputku di depan gerbang sekolah. Kami memang berasal dari sekolah yang berbeda, tapi itu sama sekali tak menjadi masalah karena Jinki selalu siap untuk menjemputku. Terkadang aku sangat beruntung memiliki pacar seperti dia, walau kadang-kadang dia juga sangat menyebalkan.
 “ Minrye,, kenapa baru keluar?? Aku sudah menunggumu lama >.<  “ keluhnya padaku
“ Maaf ya, aku tadi ada urusan sebentar dan aku lupa memberi tahumu “ jawabku
“ Ya sudahlah, mari kita pulang “ajaknya.
   Akhirnya kami pulang dengan menaiki motornya, aku memeluk erat dia seakan takut kehilangannya. Entah mengapa, tapi saat bersamanya aku merasa nyaman dan sama sekali tak ingin berpisah dengannya.
~Beberapa bulan berlalu~
   Seusai bermain basket, aku merasa kepalaku sangat pusing dan rasanya sangat mual sehingga aku pun pingsan di tengah lapangan. Semua orang panik dan akhirnya mereka membawaku ke rumah sakit. Aku tak sadarkan diri hingga 3 hari lamanya, dan saat aku membuka mata ku lihat mama dan Jinki ada disampingku.
“ Minrye . . kau sudah baikan??”
   Aku tak menjawabnya, tapi ku anggukkan kepalaku sebagai tanda aku sudah sedikit lebih baik. Aku merasa lidahku masih sangat kaku dan sedikit kesulitan bicara.
“ Minrye sayang,, mama disini bersama Jinki selalu menunggu Minrye membuka mata selama 3 hari ini. Mama senang akhirnya Minrye sudah membuka mata. “ kata mama padaku
   Walau sedikit sulit berbicara, tapi ku usahakan bicara 1 kalimat saja.
“ Terima kasih mama dan Jinki “ kataku dengan suara yang pelan.
   Dokter pun akhirnya datang setelah tahu aku sudah membuka mata, dia segera memeriksaku dan dia pun memanggil mama untuk membicarakan keadaanku.
“ Nyonya,, dengan sangat terpaksa saya katakan bahwa Minrye menderita kangker tulang dan itu sangat berbahaya untuk anak seusia Minrye !! “ kata dokter.
“ Lantas harus bagaimana, dok?? Minrye tidak boleh menderita begini !! dia masih terlalu muda untuk mendapat penyakit seperti ini !! “ jawab mama sambil menangis.
“ Minrye masih bisa mengikuti therapy namun membutuhkan proses yang lama !! “ kata dokter.
“ Apakah itu bisa membantu Minrye?? Lantas apa saja efek dari penyakit ini?? “ tanya mama.
“ Sedikit bisa membantu, penyakit ini lambat laun akan membuat dia meninggal “ jawab dokter.
“ Lakukan yang terbaik, dok !! Minrye harus sembuh !! “ kata mama pasrah.
   Mama kembali ke ruang perawatanku,, ku lihat raut muka mama sangat sedih. Rasanya sangat tidak rela melihat mama sedih, apalagi itu karena aku.
“ Mama . . . kenapa?? “ tanyaku pada mama.
“ Tidak kenapa-kenapa sayang,, Minrye harus kuat yaa !! “ kata mama sambil memelukku.
“ Memang Minrye kenapa, ma?? Minrye sakit apa?? “ tanyaku pada mama.
“ Maaf  Minrye,, tapi Minrye sakit kangker tulang yang akan membuat Minrye kesulitan bergerak nantinya. Tapi tenang saja sayang,, mama dan dokter akan sekuat tenaga berusaha membuat Minrye sembuh !! “ jawab mama.
   Tanpa terasa air mataku menetes juga, seluruh hatiku rasanya hancur memikirkan apa yang akan terjadi padaku nantinya. Aku tak percaya ini akan menimpa aku. Aku berusaha tegar karena aku tak ingin melihat mama sedih.
   Seminggu kemudian, aku keluar dari rumah sakit. Ku lihat Jinki menyambutku di rumah, aku bahagia melihatnya sekaligus sedih karena aku tahu bahwa aku takkan lama lagi meninggalkan dunia ini, meninggalkan mama, dan juga meninggalkan Jinki.
“ Minrye pacarku yang cantik sudah keluar dari rumah sakit yaa?? Ini aku bawakan bunga hanya untuk Minrye yang paling cantik sedunia “ katanya sambil memberikan bunga mawar merah padaku.
“ Terima kasih yaa Jinki yang tampan !! senang rasanya bisa bertemu Jinki lagi,, Minrye kangen sekali denganmu !! “ kataku sambil tersenyum melihat kehadiran Jinki.
“ Minrye. . . Jinki akan selalu menjaga kamu!! Jinki akan selalu di sisi kamu,, setiap saat waktu Jinki hanya untuk Minrye !! bahkan Jinki telah pindah ke sekolah Minrye supaya bisa selalu bersama Minrye karena Jinki sangat mencintai Minrye “ katanya sambil memelukku.
“ Jinki-aah !! Minrye tidak tahu harus bilang apalagi untuk berterima kasih kepada Jinki,, Minrye juga sangat mencintai Jinki !! “ kataku.
   3 Hari kemudian aku kembali masuk sekolah dengan ditemani Jinki. Walau kini aku sakit, namun aku tak mau sedikit pun merepotkan Jinki. Apapun yang bisa aku lakukan sendiri, akan kulakukan tanpa meminta bantuan orang lain.
   Aku mulai berfikir, apakah Jinki mengetahui penyakitku ini?? Apakah mama telah memberi tahu dia?? Jika dia belum tahu, aku takut dia nanti akan terus mencintai aku dan saat aku pergi ke surga akan meninggalkan luka yang dalam untuk Jinki.
“ Jinki . . . “ ucapku membuka obrolan.
“ Iya, kenapa Minrye?? “ tanyanya
“ Apa Jinki tahu sakit yang sedang Minrye derita?? “ tanyaku balik.
“ Apapun penyakit Minrye,, Minrye pasti sembuh karena Jinki tahu kalau Minrye adalah anak yang kuat !! “ katanya mencoba menenangkanku.
“ Jinki tahu tidak sih sebenarnya?? Tolong jawab pertanyaan Minrye !! “ tanyaku lagi.
“ Jinki tahu,, so??? Kenapa memangnya kalau Jinki tahu??? Apakah Jinki tidak boleh tahu?? “ tanyanya lagi.
“ Tentu Jinki harus tahu !! lalu, apakah Jinki tidak ingin putus dengan Minrye?? Jinki tahu kan kalau Minrye tidak akan bertahan lama?? “ tanyaku.
“ Mengapa Minrye berfikir kalau Jinki mau melakukan hal itu?? Jinki itu akan selalu mencintai Minrye bagaimanapun keadaan Minrye !! Jinki akan menemanimu sampai detik terakhir dalam hidupmu !! “ katanya tegas.
   Tanpa bicara lagi segara ku peluk erat Jinki. Di satu sisi aku merasa sangat beruntung memilikinya, namun di sisi lain aku kasihan padanya yang selalu mengorbankan waktunya demi aku.
~ 1 Tahun kemudian ~
   Tanpa terasa aku masih bisa bertahan selama ini, walau rasa sakit yang kurasa sungguh luar biasa namun aku sangat senang masih bisa berada di tengah-tengah orang yang aku cintai.
   Hari ini hari yang sangat istimewa bagi kami, karena kami akan di wisuda setelah lulus SMA. Aku mendapat nilai yang cukup baik, Jinki juga tentunya. Jinki datang bersama orang tuanya, sedangkan aku hanya datang bersama mama karena papaku entah dimana.
   Ditengah-tengah acara wisuda tiba-tiba aku di panggil untuk maju ke panggung, disana sudah ada Jinki. Awalnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi, dan ternyata Jinki melamarku di hadapan teman-teman, guru, serta orang tua kami.
“ Minrye-aah !! “ panggilnya.
“ Ne . . “ sahutku.
“ Minrye,, sudah bertahun-tahun aku mengenalmu dan mencintaimu melawati hari bersamamu !! berada di masa sulitmu !! kini aku hanya ingin Minrye menjadi milikku,, Maukah Minrye menikah denganku?? “ katanya sambil memberikan bunga dan cincin.
   Tanpa mengatakan apapun, akupun hanya menganguk saja. Dan seolah mengerti maksudku, Jinki pun tersenyum senang. Akupun begitu, dalam hatiku sangat senang sekaligus sedih jika aku tak mampu bertahan lebih lama lagi.
   Kami hanya membutuhkan waktu 1 bulan untuk mempersiapakan pernikahan, karena kami tak ingin menunda waktu lagi. Jinki takut jika dia tak sempat menjadikan aku istriya mengingat penyakitku yang semakin mangganas ini.
~ Hari paling indah dalam hidupku ~
   Aku mengenakan gaun panjang berwarna putih sambil memegang setangkai bunga. Di sampingku, ada Jinki yang kini telah resmi menjadi suamiku setelah kami berucap ikrar. Jinki terlihat sangat bahagia, begitu pula aku walau aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan.
“ Minrye,, kau cantik sekali “ bisiknya padaku.
   Akupun hanya tersenyum kecil tanpa membalas bisikannya.
   Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, sekelilingku seperti berputar. Hidungku pun mengeluarkan darah yang cukup banyak dan tak berapa lama kemudian aku pun pingsan.
“ Minrye !! “ Jinki memanggil namaku sambil menggendong tubuhku.
   Dalam keadaan setengah sadar, aku masih bisa melihat Jinki akan membawaku ke rumah sakit dan akupun mencegahnya walaupun hanya dengan sedikit tenaga aku bisa mengatakannya.
“ Jinki,, ja. . jangan ba. . bawa aku ke ru. . rumah sa. . sakit “ kataku terbata-bata.
“ Lalu Minrye mau kemana?? “ tanyanya.
“ Ba. . bawa aku ke ta. . taman “ kataku.
   Sekuat tenaga Jinki membawaku ke taman. Di sebuah bangku aku meminta Jinki menurunkan aku yang telah lemah tak berdaya ini.
“ Minrye . . . !! kalau Minrye sudah tidak kuat, Minrye boleh pergi sekarang !! aku sudah rela bila harus kehilangan Minrye,, aku tidak mau melihat Minrye tersiksa lagi !! “ katanya padaku.
“ Karena itulah Minrye ingin Jinki membawa Minrye disini,, Minrye hanya ingin Jinki tahu bahwa Minrye selalu mencintai Jinki sampai nafas terakhir Minrye berhembus” Bisikku padanya.
   Jinki memelukku erat. Seiring hujan yang turun, di sanalah nafasku berhenti. Jiwaku terbang ke surga dengan bahagia karena aku pergi tanpa perasaan yang mengganjal di hati.
~ Di hari pemakamanku ~
   Semua orang memakai baju hitam. Mama ku dan Jinki terlihat sangat sedih namun aku yakin dalam hati mereka sudah ikhlas melepas kepergianku. Aku pergi meninggalkan semua di dunia ini, meninggalkan semua cintaku pada Jinki.
“ Minrye-aah,, aku harap dengan kepergianmu ini kau tidak lagi merasakan sakit yang selama ini kau derita !! barbahagialah disana, Minrye !! aku selalu mencintaimu !! “ kata Jinki di depan makamku.
   Tiba-tiba mama menghampiri Jinki sambil membawa kotak yang aku titipkan pada mama sebelum aku meninggal.
“ Jinki,, “ panggil mama.
“ Ne,, waeyo?? “ sahut Jinki.
“ Ini,, Minrye titipkan padaku sebelum dia meninggal. Dia memintaku memberikan ini padamu di hari pemakamannya. “ kata mama pada Jinki, setelah itu mama pergi meninggalkan Jinki sendirian di makamku.
“ Ne,, gomawoyo “ sahut Jinki.
   Jinki membuka kotak itu, kotak itu berisi boneka teddy bear pemberiannya sebagai kado pertama darinya. Jinki tersenyum melihat teddy bear itu, mungkin dia mengerti maksudku. Ku tulis pula sebuah surat untuknya . . .
Dear Jinki . . terima kasih ya telah menemaniku sampai waktu terakhirku. Selalu membuat aku tersenyum di saat tersulit dalam hidupku. Satu orang yang selalu ada disana adalah kamu, yang selalu ada buat aku. . terima kasih juga telah mencintaiku aku, aku juga mencintaimu. . berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu bahagia walau tanpa aku. . ingatlah bahwa aku selalu menjagamu dari surga . . Minrye selalu mencintaimu sampai kapanpun,, jadikan Minrye sebagai kenangan terindahmu . . . “
“ Minrye,, aku akan terus hidup tanpamu walau aku tahu itu sulit . . aku akan mengenangmu, Minrye . . . “ kata Jinki sebelum meninggalkan makamku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar