Tittle: My Last Love
Author: onni lee
Main cast: Kim Minrye (OC), Onew (SHINee).
Support cast: Kim Ha Ra (as Minrye's mother).
Rating: all ages
Genre: romance
“ Minrye
. . . .” teriak Jinki saat memanggilku.
“ Jinki-aah
,, ada apa??” tanyaku balik
“ Tidak
ada apa-apa Minrye !!” jawabnya sambil tersenyum padaku.
Jinki adalah seseorang yang selalu membuat
aku tertawa, selalu mengisi hariku dengan senyumannya, dan selalu ada disaat
aku membutuhkan dia. Ya,, dia adalah seseorang yang sangat aku cintai.
Hari itu, Jinki menjemputku di depan gerbang
sekolah. Kami memang berasal dari sekolah yang berbeda, tapi itu sama sekali
tak menjadi masalah karena Jinki selalu siap untuk menjemputku. Terkadang aku
sangat beruntung memiliki pacar seperti dia, walau kadang-kadang dia juga
sangat menyebalkan.
“ Minrye,, kenapa baru keluar?? Aku sudah
menunggumu lama >.< “ keluhnya
padaku
“ Maaf
ya, aku tadi ada urusan sebentar dan aku lupa memberi tahumu “ jawabku
“ Ya
sudahlah, mari kita pulang “ajaknya.
Akhirnya kami pulang dengan menaiki
motornya, aku memeluk erat dia seakan takut kehilangannya. Entah mengapa, tapi
saat bersamanya aku merasa nyaman dan sama sekali tak ingin berpisah dengannya.
~Beberapa
bulan berlalu~
Seusai bermain basket, aku merasa kepalaku
sangat pusing dan rasanya sangat mual sehingga aku pun pingsan di tengah
lapangan. Semua orang panik dan akhirnya mereka membawaku ke rumah sakit. Aku
tak sadarkan diri hingga 3 hari lamanya, dan saat aku membuka mata ku lihat
mama dan Jinki ada disampingku.
“ Minrye
. . kau sudah baikan??”
Aku tak menjawabnya, tapi ku anggukkan
kepalaku sebagai tanda aku sudah sedikit lebih baik. Aku merasa lidahku masih
sangat kaku dan sedikit kesulitan bicara.
“ Minrye
sayang,, mama disini bersama Jinki selalu menunggu Minrye membuka mata selama 3
hari ini. Mama senang akhirnya Minrye sudah membuka mata. “ kata mama padaku
Walau sedikit sulit berbicara, tapi ku
usahakan bicara 1 kalimat saja.
“ Terima
kasih mama dan Jinki “ kataku dengan suara yang pelan.
Dokter pun akhirnya datang setelah tahu aku
sudah membuka mata, dia segera memeriksaku dan dia pun memanggil mama untuk
membicarakan keadaanku.
“
Nyonya,, dengan sangat terpaksa saya katakan bahwa Minrye menderita kangker
tulang dan itu sangat berbahaya untuk anak seusia Minrye !! “ kata dokter.
“ Lantas
harus bagaimana, dok?? Minrye tidak boleh menderita begini !! dia masih terlalu
muda untuk mendapat penyakit seperti ini !! “ jawab mama sambil menangis.
“ Minrye
masih bisa mengikuti therapy namun membutuhkan proses yang lama !! “ kata
dokter.
“ Apakah
itu bisa membantu Minrye?? Lantas apa saja efek dari penyakit ini?? “ tanya
mama.
“
Sedikit bisa membantu, penyakit ini lambat laun akan membuat dia meninggal “
jawab dokter.
“
Lakukan yang terbaik, dok !! Minrye harus sembuh !! “ kata mama pasrah.
Mama kembali ke ruang perawatanku,, ku lihat
raut muka mama sangat sedih. Rasanya sangat tidak rela melihat mama sedih,
apalagi itu karena aku.
“ Mama .
. . kenapa?? “ tanyaku pada mama.
“ Tidak
kenapa-kenapa sayang,, Minrye harus kuat yaa !! “ kata mama sambil memelukku.
“ Memang
Minrye kenapa, ma?? Minrye sakit apa?? “ tanyaku pada mama.
“
Maaf Minrye,, tapi Minrye sakit kangker
tulang yang akan membuat Minrye kesulitan bergerak nantinya. Tapi tenang saja
sayang,, mama dan dokter akan sekuat tenaga berusaha membuat Minrye sembuh !! “
jawab mama.
Tanpa terasa air mataku menetes juga,
seluruh hatiku rasanya hancur memikirkan apa yang akan terjadi padaku nantinya.
Aku tak percaya ini akan menimpa aku. Aku berusaha tegar karena aku tak ingin
melihat mama sedih.
Seminggu kemudian, aku keluar dari rumah
sakit. Ku lihat Jinki menyambutku di rumah, aku bahagia melihatnya sekaligus
sedih karena aku tahu bahwa aku takkan lama lagi meninggalkan dunia ini,
meninggalkan mama, dan juga meninggalkan Jinki.
“ Minrye
pacarku yang cantik sudah keluar dari rumah sakit yaa?? Ini aku bawakan bunga
hanya untuk Minrye yang paling cantik sedunia “ katanya sambil memberikan bunga
mawar merah padaku.
“ Terima
kasih yaa Jinki yang tampan !! senang rasanya bisa bertemu Jinki lagi,, Minrye
kangen sekali denganmu !! “ kataku sambil tersenyum melihat kehadiran Jinki.
“
Minrye. . . Jinki akan selalu menjaga kamu!! Jinki akan selalu di sisi kamu,,
setiap saat waktu Jinki hanya untuk Minrye !! bahkan Jinki telah pindah ke
sekolah Minrye supaya bisa selalu bersama Minrye karena Jinki sangat mencintai
Minrye “ katanya sambil memelukku.
“
Jinki-aah !! Minrye tidak tahu harus bilang apalagi untuk berterima kasih kepada
Jinki,, Minrye juga sangat mencintai Jinki !! “ kataku.
3 Hari kemudian aku kembali masuk sekolah
dengan ditemani Jinki. Walau kini aku sakit, namun aku tak mau sedikit pun
merepotkan Jinki. Apapun yang bisa aku lakukan sendiri, akan kulakukan tanpa
meminta bantuan orang lain.
Aku mulai berfikir, apakah Jinki mengetahui
penyakitku ini?? Apakah mama telah memberi tahu dia?? Jika dia belum tahu, aku
takut dia nanti akan terus mencintai aku dan saat aku pergi ke surga akan
meninggalkan luka yang dalam untuk Jinki.
“ Jinki
. . . “ ucapku membuka obrolan.
“ Iya,
kenapa Minrye?? “ tanyanya
“ Apa
Jinki tahu sakit yang sedang Minrye derita?? “ tanyaku balik.
“ Apapun
penyakit Minrye,, Minrye pasti sembuh karena Jinki tahu kalau Minrye adalah
anak yang kuat !! “ katanya mencoba menenangkanku.
“ Jinki
tahu tidak sih sebenarnya?? Tolong jawab pertanyaan Minrye !! “ tanyaku lagi.
“ Jinki
tahu,, so??? Kenapa memangnya kalau Jinki tahu??? Apakah Jinki tidak boleh
tahu?? “ tanyanya lagi.
“ Tentu
Jinki harus tahu !! lalu, apakah Jinki tidak ingin putus dengan Minrye?? Jinki
tahu kan kalau Minrye tidak akan bertahan lama?? “ tanyaku.
“
Mengapa Minrye berfikir kalau Jinki mau melakukan hal itu?? Jinki itu akan
selalu mencintai Minrye bagaimanapun keadaan Minrye !! Jinki akan menemanimu
sampai detik terakhir dalam hidupmu !! “ katanya tegas.
Tanpa bicara lagi segara ku peluk erat
Jinki. Di satu sisi aku merasa sangat beruntung memilikinya, namun di sisi lain
aku kasihan padanya yang selalu mengorbankan waktunya demi aku.
~ 1
Tahun kemudian ~
Tanpa terasa aku masih bisa bertahan selama
ini, walau rasa sakit yang kurasa sungguh luar biasa namun aku sangat senang
masih bisa berada di tengah-tengah orang yang aku cintai.
Hari ini hari yang sangat istimewa bagi
kami, karena kami akan di wisuda setelah lulus SMA. Aku mendapat nilai yang
cukup baik, Jinki juga tentunya. Jinki datang bersama orang tuanya, sedangkan
aku hanya datang bersama mama karena papaku entah dimana.
Ditengah-tengah acara wisuda tiba-tiba aku di panggil untuk maju ke
panggung, disana sudah ada Jinki. Awalnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi,
dan ternyata Jinki melamarku di hadapan teman-teman, guru, serta orang tua
kami.
“
Minrye-aah !! “ panggilnya.
“ Ne . .
“ sahutku.
“
Minrye,, sudah bertahun-tahun aku mengenalmu dan mencintaimu melawati hari
bersamamu !! berada di masa sulitmu !! kini aku hanya ingin Minrye menjadi
milikku,, Maukah Minrye menikah denganku?? “ katanya sambil memberikan bunga dan
cincin.
Tanpa mengatakan apapun, akupun hanya
menganguk saja. Dan seolah mengerti maksudku, Jinki pun tersenyum senang.
Akupun begitu, dalam hatiku sangat senang sekaligus sedih jika aku tak mampu
bertahan lebih lama lagi.
Kami hanya membutuhkan waktu 1 bulan untuk
mempersiapakan pernikahan, karena kami tak ingin menunda waktu lagi. Jinki
takut jika dia tak sempat menjadikan aku istriya mengingat penyakitku yang
semakin mangganas ini.
~ Hari
paling indah dalam hidupku ~
Aku mengenakan gaun panjang berwarna putih
sambil memegang setangkai bunga. Di sampingku, ada Jinki yang kini telah resmi
menjadi suamiku setelah kami berucap ikrar. Jinki terlihat sangat bahagia,
begitu pula aku walau aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan.
“
Minrye,, kau cantik sekali “ bisiknya padaku.
Akupun hanya tersenyum kecil tanpa membalas
bisikannya.
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing,
sekelilingku seperti berputar. Hidungku pun mengeluarkan darah yang cukup
banyak dan tak berapa lama kemudian aku pun pingsan.
“ Minrye
!! “ Jinki memanggil namaku sambil menggendong tubuhku.
Dalam keadaan setengah sadar, aku masih bisa
melihat Jinki akan membawaku ke rumah sakit dan akupun mencegahnya walaupun
hanya dengan sedikit tenaga aku bisa mengatakannya.
“
Jinki,, ja. . jangan ba. . bawa aku ke ru. . rumah sa. . sakit “ kataku
terbata-bata.
“ Lalu
Minrye mau kemana?? “ tanyanya.
“ Ba. .
bawa aku ke ta. . taman “ kataku.
Sekuat tenaga Jinki membawaku ke taman. Di
sebuah bangku aku meminta Jinki menurunkan aku yang telah lemah tak berdaya
ini.
“ Minrye
. . . !! kalau Minrye sudah tidak kuat, Minrye boleh pergi sekarang !! aku
sudah rela bila harus kehilangan Minrye,, aku tidak mau melihat Minrye tersiksa
lagi !! “ katanya padaku.
“ Karena
itulah Minrye ingin Jinki membawa Minrye disini,, Minrye hanya ingin Jinki tahu
bahwa Minrye selalu mencintai Jinki sampai nafas terakhir Minrye berhembus”
Bisikku padanya.
Jinki memelukku erat. Seiring hujan yang
turun, di sanalah nafasku berhenti. Jiwaku terbang ke surga dengan bahagia
karena aku pergi tanpa perasaan yang mengganjal di hati.
~ Di
hari pemakamanku ~
Semua orang memakai baju hitam. Mama ku dan
Jinki terlihat sangat sedih namun aku yakin dalam hati mereka sudah ikhlas
melepas kepergianku. Aku pergi meninggalkan semua di dunia ini, meninggalkan
semua cintaku pada Jinki.
“
Minrye-aah,, aku harap dengan kepergianmu ini kau tidak lagi merasakan sakit
yang selama ini kau derita !! barbahagialah disana, Minrye !! aku selalu
mencintaimu !! “ kata Jinki di depan makamku.
Tiba-tiba mama menghampiri Jinki sambil
membawa kotak yang aku titipkan pada mama sebelum aku meninggal.
“
Jinki,, “ panggil mama.
“ Ne,,
waeyo?? “ sahut Jinki.
“ Ini,,
Minrye titipkan padaku sebelum dia meninggal. Dia memintaku memberikan ini
padamu di hari pemakamannya. “ kata mama pada Jinki, setelah itu mama pergi
meninggalkan Jinki sendirian di makamku.
“ Ne,,
gomawoyo “ sahut Jinki.
Jinki membuka kotak itu, kotak itu berisi
boneka teddy bear pemberiannya sebagai kado pertama darinya. Jinki tersenyum
melihat teddy bear itu, mungkin dia mengerti maksudku. Ku tulis pula sebuah
surat untuknya . . .
“ Dear Jinki . . terima kasih ya telah
menemaniku sampai waktu terakhirku. Selalu membuat aku tersenyum di saat
tersulit dalam hidupku. Satu orang yang selalu ada disana adalah kamu, yang
selalu ada buat aku. . terima kasih juga telah mencintaiku aku, aku juga
mencintaimu. . berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu bahagia walau tanpa
aku. . ingatlah bahwa aku selalu menjagamu dari surga . . Minrye selalu
mencintaimu sampai kapanpun,, jadikan Minrye sebagai kenangan terindahmu . . .
“
“ Minrye,,
aku akan terus hidup tanpamu walau aku tahu itu sulit . . aku akan mengenangmu,
Minrye . . . “ kata Jinki sebelum meninggalkan makamku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar